Ratna Indraswari Ibrahim, Di Mana Oase dan Magma Itu Bertemu

Aku merasa pusing dan ingin keluar saja dari kamar ini / Kau menahanku, cobalah sejenak di sini….. / Betapa kecil! / Di tempatmu dingin dan kau hampir tertutup / Lantas dia menyanyi bersama topeng itu / Seperti pisau tajam / Kebisingan menyakitiku…

GERAKAN (November 1979) adalah judul salah satu puisi dari puluhan puisi karya cerpenis Indonesia, Ratna Indraswari Ibrahim. Puisi yang sama ia munculkan dalam blog-nya yang belum sempat terupdate dalam kurun waktu lama.

Perempuan yang pada 24 April 2011 mendatang akan genap berusia 62 tahun itu, pada akhirnya harus takluk pada suratan hidupnya. Senin (28/3), pukul 09.55 WIB, Ratna mengakhiri perjalanan panjangnya di ruang unit stroke, pavilion bougenville RSUD dr Sjaiful Anwar Malang, setelah beberapa kali sempat dirawat di rumah sakit yang sama.

Kali ini, Ratna memang menyerah untuk selamanya. Namun tidak untuk semangatnya yang luar biasa itu. Rasanya terlalu naïf menilai sosok perempuan yang secara fisik kurang beruntung dibandingkan sesamanya itu sebagai perempuan yang cacat. Karena, semangat Ratna yang diwariskan dalam lebih dari 400 cerita pendek, novel, puisi, juga buku belajar menulis itu adalah bukti semangat yang tak akan pernah padam.

Bagi saya pribadi yang mengenalnya semenjak tahun 1990, Mbak Ratna –demikian saya dan banyak teman jurnalis lain menyapanya– ibarat oase yang sungguh menyejukkan. Bukan hanya ucapannya, tatapannya yang menenangkan, atau bahkan tawanya yang acapkali membahana yang rasanya muskil datang darinya, selalu membuat siapa saja bisa kembali tenang. Tak sekadar oase, bertemu Mbak Ratna bagi saya berarti sekaligus kesempatan ‘mencuri’ magma yang terus bergolak dalam dirinya dan mampu menularkan semangat yang sama saat yang bertandang ke rumahnya.

Rumah kuno (dibangun tahun 1914) di jalan Diponegoro 3 Malang itu memang tidak pernah menutup pintunya bagi siapapun yang ingin bertandang ke sana setiap saat. Suara tawa yang kadang disertai dengan candaan dan gojlokannya itulah yang mampu membuat siapa saja tersipu-sipu saat dikerjainya.

Dari sisi karya tulisnya, mbak Ratna tak pelak sudah kenyang mendapat apresiasi juga pujian dari sana-sini. Termasuk dari Harian Kompas yang menganjarnya dengan Anugerah Kesetiaan Berkarya (2005) dan membukukan cerpennya Baju dalam Jl. Asmaradana: Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2005. Bersama Baju karyanya, terkumpul di dalamnya cerpen Agus Noor (Kupu-kupu Seribu Peluru), Radhar Panca Dahana (Senja Muram, Daging di Mulutnya), Gus tf Sakai (Belatung), Veven Sp Wardhana (Dari Mana Datangnya Mata), Sunaryono Basuki Ks (Sepasang Kera yang Berjalan dari Pura ke Pura), Indra Tranggono (Bulan Terbingkai Jendela), Nh Dini (Daun-daun Waru di Samirono), dan Kurnia Effendi (Roti Tawar).

Saya tak berhak mengapreasisi karya mbak Ratna yang sudah diwiwitinya semenjak belia, di usia delapan tahun. Kecintaan keluarga pada buku, serta cita-cita musnah ibundanya yang gagal menjadi penulis seolah dibayarnya lunas dengan menjadi Ratna yang dikenal orang selama ini, cerpenis, bahkan budayawan layak disandangnya. Pada mbak Ratna, saya justru melihat oase yang tak pernah surut itu.

Sosoknya acapkali mengecoh banyak mereka yang terlahir sempurna. Sebelum radang tulang (rachitis) di saat usianya 10 tahun mengubah fisiknya sedemikian rupa, tidak mampu menggerakkan kedua tangan dan tungkainya, hari-harinya dihabiskan di kursi roda, dan sepenuhnya mengandalkan bantuan orang, untuk makan, minum, terutama untuk menuangkan semua gagasan yang ada di benaknya.

“Jadi, kalau membalas salam saja yo nunggu bantuan sik rek,” celetuknya enteng, lewat situs jejaring social facebook. Sama persis dengan judul puisinya di atas, mbak Ratna tidak merasa tersandera dengan kekurangan fisiknya. Justru imajinasinya yang meruah itu kemudian tertuang dalam karya-karyanya yang mampu terbang bebas melampaui semua kekurangan dirinya. Setidaknya bagi saya pribadi, mbak Ratna adalah di mana oase dan magma itu bertemu.

Selamat jalan mbak Ratna.

Iklan

Tentang trihatma

...KETIKA UJARAN TIDAK LAGI DIDENGAR, MAKA KANAL YANG MENAWARKAN BEGITU BANYAK LABIRIN KATA KATA MENJADI PILIHAN. DI SINILAH SAYA MEMBERI PENANDA, SEBATAS RANGKAIAN KATA KATA, YANG SETIDAKNYA SANGAT BERMAKNA BUAT SAYA, SEMOGA DEMIKIAN DENGAN SEJAWAT DI BELAHAN MANAPUN ANDA BERADA...
Pos ini dipublikasikan di Cermin..., Harian Surya, Saatnya Berbagi... dan tag , , , , . Tandai permalink.

5 Balasan ke Ratna Indraswari Ibrahim, Di Mana Oase dan Magma Itu Bertemu

  1. yuhandri berkata:

    ketika jari tidak lagi bisa bicara dan kata tak lagi bermakna, namun asa tetap menyala…….selamat jalan sastrawan, asamu tetap ada dan menyala

  2. aflahulabidin berkata:

    Salam Mbak Tri Hatma Ningsih. Saya Aflahul dari Universitas Islam Darul Ulum Lamongan, ingin tanya tentang prosedur magang di harian Surya. Boleh saya minta contact personnya?

  3. sebelum beliau meninggal saya dah di Malang, tapi gak sempat ketemu. Belum pernah baca bukunya lagi..

  4. Salam,

    saya belum sempat ketemu dengan mbak Ratna. waktu itu, saya masih pelajar dan cuma dengar cerita dari Ayah soal mbak Ratna. Ayah saya sendiri, kenal mbak Ratna hanya sebatas dari mass media.

    saya merasa sangat terlambat juga, membaca artikel ini, baru sekarang 😦

    oh, iya, saya ingin follow blog Ibu. Tapi, saya cari tombol follownya tidak ketemu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s