“Ambillah Setelah Saya Meninggal”


Sepasang mata indah (ilustrasi by ISTIMEWA)

DENGAN sadar dan tanpa tekanan, saya membubuhkan tanda tangan di atas dua lembar form yang menyatakan keikhlasan saya kelak di saat nyawa lepas dari raga, bahwa sepasang mata saya akan didonorkan kepada siapa pun yang membutuhkannya. Itu terjadi sekitar 27 tahun lalu. Waktu itu, orangtua saya, tepatnya bapak saya juga membubuhkan tanda tangannya, tanda menyetujui apa yang saya lakukan, dalam status saya sebagai perempuan lajang. Pertimbangan saya waktu itu sederhana saja. Apakah kelak ketika saya tutup mata, Sang Maha Pemberi Hidup memanggil saya kembali ke haribaannya, apakah raga yang sudah dingin tanpa dilambari oleh kehidupan ini, tersia-sia begitu saja sedikit demi sedikit dikikis cacing? 

Alangkah bahagianya andai ada saudara seiman pada akhirnya bisa menikmati sedikit keindahan alam ciptaan Allah swt ini saat mereka bisa melek setelah menerima kornea mata dari siapa pun yang telah mengikhlaskannya setelah tutup mata.  Itu pertimbangan sederhana yang melatari mengapa akhirnya saya bergabung di Bank Mata Cabang Kota Malang sebagai salah satu calon pendonornya.

Bukan karena ingin menjadi pahlawan. Apalagi pahlawan kesiangan. Tulisan itu masih saya temukan di buku lama saya. Ya, kinipun saya masih berpikir sama. Donor kornea mata saya ini tanpa imbalan materi sama sekali, bukan lantaran saya ingin dikenang sebagai pahlawan. Bukan!

Allah sang Maha Tahu, mengetahui apa yang saya nyatakan. Demikian pula apa yang saya sembunyikan, bahkan jika saya menenggelamkannya jauh di dasar terdalam nurani saya.

Sang Maha Tahu tentu juga mahfum, mengapa akhir-akhir ini saya gamang dengan apa yang pernah saya niatkan 27 tahun silam. Pertimbangan saya setidaknya cukup mendasar. Saya belum mengetahui pertimbangan donor organ tubuh setelah wafat dari kacamata dan hukum Islam. Waktu itu. Bahkan juga saat ini. Itu saja.

Jujur saja, saya takut jika apa yang saya pilih dan kelak akan saya lakukan ini ternyata keliru besar dari pandangan Islam. Saya mencoba searching dan menemukan beberapa pertimbangan mengenai donor organ tubuh setelah meninggal kelak.

Ada pernyataan yang menyebutkan mengenai donor darah diperbolehkan dengan tiga syarat. Yakni:
# satu, dalam keadaan darurat
# dua, tidak memudhrati si pendonor darah
# tiga, didukung oleh keterangan dari dokter yang dapat dipercaya.

Tentu saja ada cuplikan ayat yang menguatkannya. Berikut, saya kutip:

Allah ta’ala berfirman:
)إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلا عَادٍ فَلا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ) (البقرة:173)

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang (yang ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya.

Berkata Syeikh Bin Baz: لا بأس في ذلك ولا حرج فيه عند الضرورة.
“Tidak mengapa (donor darah) ketika darurat .(Majmu Fatawa Syeikh Bin Baz 20/71 )

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لا ضرر ولا ضرار
“Tidak boleh memudharati diri sendiri dan memudharati orang lain” (HR. Ibnu Majah, dan dishahihkan Syeikh Al-Albany)

Berkata Syeikh Al-Utsaimin:
فالتبرع بالدم إذا كان لا يضر الإنسان ما به بأس؛ لأن الدم يعوض سريعاً بخلاف التبرع بالأعضاء، فالأعضاء لو تبرعت بها ما عوضت مرة ثانية
“Donor darah kalau tidak membawa mudharat maka tidak mengapa, karena darah itu cepat diganti, beda dengan anggota badan karena dia tidak ada gantinya ” (Fatawa Nur ‘Ala Ad-Darb )

Lalu bagaimana pertimbangan mengenai donor organ tubuh manusia?

Ternyata ada beberapa pertimbangan. Terutama jika sang pendonor berangkat dari kacamata komersil atau mendonorkan organ dengan imbalan uang dan sejenisnya.

Dari pandangan yang dikuatkan oleh Syeikh Abdul Aziz bin Baz dan Syeikh Muhammad Al-Utsaimin adalah donor organ tubuh (tidak saya temukan kalimat, diiklhaskan atau dengan imbalan) adalah tidak boleh karena beberapa hal:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
كسر عظم الميت ككسره حيا
“Memecah tulang orang yang meninggal seperti memecah tulangnya ketika masih hidup” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albany)

Sementara mengambil jantung dan ginjal misalnya lebih besar perkaranya dari hanya sekadar memecah tulang. Ini adalah jenis perendahan terhadap anggota tubuh manusia.

Allah ta’ala mencipta sepasang organ tubuh dengan hikmah dan faidah, yaitu supaya bekerjasama dalam sebuah pekerjaan. Kalau hilang satu maka tentunya disana ada pengaruh ke badan.

Pemindahan organ ini kepada orang lain belum tentu berhasil, sementara pendonor jelas merasakan mafsadahnya.

Organ tubuh adalah amanat dari Allah.

Jika pendonor hanya memiliki satu organ tubuh kemudian organ tubuh yang satu itu rusak maka dia termudharati.
(Lihat Majmu Fatawa Syeikh Bin Baz 13/364, Fatawa Nur ‘Ala Ad-darb Syeikh Muhammad Al-Utsaimin)

Untuk sementara hanya itu yang bisa saya temukan, mungkin ada saudara seiman yang mengetahui pertimbangan khusus donor organ tubuh ini dari kacamata hukum Islam?

Please sharing ya… dan mohon maaf jika apa yang saya kutip ini ternyata kurang memadai.

*t*

Iklan

Tentang trihatma

...KETIKA UJARAN TIDAK LAGI DIDENGAR, MAKA KANAL YANG MENAWARKAN BEGITU BANYAK LABIRIN KATA KATA MENJADI PILIHAN. DI SINILAH SAYA MEMBERI PENANDA, SEBATAS RANGKAIAN KATA KATA, YANG SETIDAKNYA SANGAT BERMAKNA BUAT SAYA, SEMOGA DEMIKIAN DENGAN SEJAWAT DI BELAHAN MANAPUN ANDA BERADA...
Pos ini dipublikasikan di Cermin..., Saatnya Berbagi... dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s