Menjadi Vegetarian Kembali…

Seporsi salad vegetarian (foto by ISTIMEWA)

Hah vegetarian? Cuma makan sayur dan buah saja? Pertanyaan yang banyak saya terima dari rekan kerja itu selalu dilambari dengan kernyitan dahi dan nada tanya naik satu oktaf lebih tinggi. So what gitu loh? Ini memang bukan pertamakalinya saya memilih untuk tidak menyantap daging (sapi, kambing, ayam, ikan, unggas) dari menu sehari-hari saya. Sebelumnya, saya pernah resmi menjadi vegetarian selama lima tahun penuh. Sekitar tahun 1983 sampai 1988. Dan lumayan sukses. 

Mungkin karena saya tidak sepenuhnya penganut vegetarian, karena saya masih mendapat suntikan protein dari telur ayam. Namun saya tidak doyan susu (sapi ataupun susu kedelai), meski saya benar-benar menjauhi produk daging dan olahannya. Mulai dari terasi, kerupuk udang, hingga kaldu dari semua bahan daging.

Nah, selama lima tahun itulah saya sangat akrab dengan pecel, gado-gado, urap sayuran, trancam (sejenis karedok-nya Betawi yang disantap dalam kondisi sayuran segar), pepes tahu, perkedel kentang, tempe goring, keripik tempe, dan semua jenis sayuran (disayur, ditumis, dikukus, direbus, dilalap segar) dan sudah tentu semua jenis buah-buahan. Namun, menu yang paling saya doyan justru semua jenis sayuran yang direbus begitu saja lalu disantap hanya dengan sambal. Hmmm…

Alhamdullillah, selama itu saya tetap sehat dan tidak pernah jatuh sakit. Bahkan dengan aktivitas saya yang lumayan padat. Cap yang pernah dilabelkan kepada saya sebagai tukang mimisan (karena hampir setiap hari saya suka mimisan, keluar darah segar dari hidung, dan sering saya alami sejak kecil) akhirnya lenyap tanpa bekas, hingga saat ini.

Saat menjadi vegetarian, keluarga saya, terutama ibu saya, berperan sangat besar dalam gaya hidup vegetarian yang entah dari mana, mendadak saya anut waktu itu. Ibu sayalah yang ketika meracik dan memasak menu untuk keluarga selalu lebih dulu mengambilkan porsi untuk saya yang tanpa terasi, kaldu, atau daging sama sekali. Kemudian, meneruskan memasak seperti biasa untuk anggota keluarga yang lain. Untuk bapak, mbah putri, dan semua saudara saya.

Entah kenapa, setelah lima tahun menjadi vegetarian itu, saya akhirnya kembali ke gaya hidup yang akrab dengan semua jenis daging. Sama seperti ketika mengawali menjadi vegetarian, saat mulai menyantap daging pun saya terbilang lancar jaya. Dan itu berlangsung selama hampir 20 tahun ini.

Jika kemudian saya kembali menjadi vegetarian –setidaknya memasuki tahun 2010– ini –syukur alhamdullillah– juga berjalan lancar-lancar saja hingga saat ini. Hanya bedanya, saya tetap menyantap telur (dalam porsi kecil), meski secara resmi menghindari semua jenis daging. Namun, saya tidak terlalu tabu untuk memakai kaldu blok (sapi dan ayam) dalam masakan racikan saya, selain madu. Kaldu ini saya gunakan sebagai gantinya garam, karena saya juga berusaha menghindari mengonsumi garam, gula, kopi, juga teh, semua sirop, dan softdrink.

Sebelumnya, empat tahun silam, saya juga secara resmi sudah memutuskan hubungan dengan nikotin, yang sejak kecil akrab dengan kehidupan saya. Itupun juga berjalan mulus, nyaris tanpa gangguan berarti, hingga detik ini. Bahkan,  penciuman saya kini menjadi sangat sensitif, terutama jika mencium aroma nikotin, dalam jarak beberapa puluh meter.

Nah, tiga bulan ini semenjak tidak menyantap daging sama sekali, saya merasakan badan, stamina, fisik dan psikis saya enak luar biasa. Saya sih berharap, bisa selamanya meneruskan kebiasaan tidak menyantap daging ini, bukan karena gaya hidup atau hidup yang gaya. Saya juga tidak terinspirasi dari sejumlah selebriti yang menganut waham hidup vegetarian ini. Sebut misal, Alicia Silverstone, Goerge Hartnett, Barbie ‘San Cai’ Zhu, atau di Indonesia ada Ray Sahetapy. Namun, hidup sehat –apapun wujudnya– memang layak dipertahankan karena ini adalah anugerah dari Nya.

Histori Vegetarian
Waham vegetarian ini pertamakalinya diperkenalkan medio 30 September 1847 oleh Joseph Brotherton dan kawan-kawan di Northwood Villa, Kent, Inggris di ajang pengukuhan Vegetarian Society Inggris.

Vegetarian dicomot dari bahasa Latin vegetus yang berarti keseluruhan, sehat, segar, hidup. Sebelum tahun 1847, mereka yang tidak menyantap daging secara umum dikenal sebagai Pythagorean atau mengikuti sistem Pythagorean, sesuai dengan Pythagoras ‘vegetarian’ dari Yunani kuno. Definisi asli dari vegetarian adalah dengan atau tanpa telur dan hasil ternak perah, dan definisi ini masih digunakan oleh vegetarian society hingga sekarang.

Gaya hidup vegetarian sendiri dikenal dalam beberapa jenis. Ada semi vegetarian, yang selain mengonsumi semua bahan nabati juga tidak menampik ikan, susu, dan telur.

Ada pula lacto avo vegetarian, yakni selain menyantap semua bahan nabati juga mengonsumsi susu dan telur.
Sementara lacto vegetarian, selain bahan nabati yang dimakan, susu dan olahannya juga bisa ia terima dalam menu harian mereka.

Ovovegetarian, adalah sebagai kebalikan dari lacto vegetarian. Sedangkan vegan adalah kelompok nabatiwan yang paling ketat. Mereka hanya mau bahan makanan dari nabati saja. Bahkan madu dari lebah pun dihindari. Saking ketatnya, mereka juga sering protes tentang pemanfaatan hewan oleh manusia.

Apa manfaat dari gaya hidup para vegetarian ini? Sebuah penelitian di Amerika Serikat, konon para nabatiwan lebih sehat, panjang umur, bahkan awet muda. Mereka juga terhindar dari penyakit jantung. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa serat dalam sayur dan buah amat berguna bagi kesehatan yang mengakibatkan populernya vegetarianisme di dunia. *t*

Iklan

Tentang trihatma

...KETIKA UJARAN TIDAK LAGI DIDENGAR, MAKA KANAL YANG MENAWARKAN BEGITU BANYAK LABIRIN KATA KATA MENJADI PILIHAN. DI SINILAH SAYA MEMBERI PENANDA, SEBATAS RANGKAIAN KATA KATA, YANG SETIDAKNYA SANGAT BERMAKNA BUAT SAYA, SEMOGA DEMIKIAN DENGAN SEJAWAT DI BELAHAN MANAPUN ANDA BERADA...
Pos ini dipublikasikan di Cermin..., Fitur-fitur Itu, In Style, Saatnya Berbagi... dan tag , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s