Inilah tumor rahim itu… (Foto by ISTIMEWA)
DEG… hantaman bak palu itu langsung membuat dada saya sesak luar biasa. Meski sebelumnya saya sudah mempersiapkan diri, toh ucapan bernada biasa dari dokter spesialis kandungan dan kebidanan itu membuat saya seperti mati rasa. Punggung saya mendadak dingin banget. Saya menikah pada September 1997 dan Desember 1997 dokter memvonis agar rahim saya diangkat! Lalu dari mana anak-anak manis yang saya impikan itu akan datang kalau rahim saya harus diangkat sekarang?
Sebelum menikah, saya menemukan ada benjolan di perut saya sebelah kiri bawah. Benjolan itu makin terasa dengan rabaan tangan di pagi hari. Selama ini saya tidak pernah mengeluh sakit karena adanya benjolan tersebut. Karena praktis sama sekali tidak mengganggu aktivitas saya sehari-hari. Padahal sehari-hari saya lebih banyak di lapangan. Saya jurnalis di sebuah media cetak di Kota Surabaya. Jenis profesi yang saya sukai karena dinamikanya dan interaksinya setiap hari membuat saya tidak pernah merasa bosan.
Lantaran tidak pernah mengganggu aktivitas saya dan saya tidak pernah sakit sama sekali, kali ini saya benar-benar melupakan peran seorang dokter. Namun, kalau boleh jujur karena saya takut menerima kebenaran tentang jatidiri sang benjolan. Selain dari itu saya merasa malu kalau diperiksa oleh dokter spesialis kandungan dan kebidanan berjenis kelamin bukan perempuan. Entah kenapa semakin tua saya semakin malu saja kalau diperiksa dokter bukan perempuan.
Akhirnya, saya memberanikan diri juga mengunjungi dokter. Meski itu bukan dokter spesialis kandungan dan kebidanan, namun dia dokter perempuan. Hehehe… seperti dalam catatan saya sebelumnya, dia dokter Ngesti Lestari. Dokter cantik dengan nama cantik yang mirip wayang orang. Ia berpraktik di Malang, sementara saya sehari-hari bekerja di Surabaya.
Dokter ini memiliki kerabat yang juga seorang dokter, bernama Abimanyu. Orangnya pendiam, gak banyak omong, dan ganteng lagi. Saya sempat naksir dia (hahaha… masa lalu). Mungkin ini namanya cinta lokasi, karena saya pernah satu lokasi saat KKN dulu di Kabupaten Kediri. Begitu KKN selesai, pertemanan saya dengannya juga bubar. Padahal kami bertetangga. Ah… ngelantur.
Nah, dokter Ngesti ini begitu selesai memeriksa saya langsung menyatakan jika benjolan di perut saya adalah tumor. Apakah ganas atau jinak harus dikuatkan lewat tes laboratorium. Surat pengantar untuk tes saya kantongi dan esoknya saya mengunjungi lab yang dimaksud. Salah satunya tes USG dan HSG.
Dokter lab yang memeriksa saya sempat curiga dengan noktah yang terlihat di monitornya ketika lempengan alat bermain di perut saya yang sudah diolesi gel. Dia juga bertanya sudah berapa saya menikah. Termasuk siklus menstruasi saya, apakah sedikit atau banyak jumlah darah menstruasi saya, apakah berbutir atau ada bongkahan, atau hanya darah cair semata. Dan banyak lainnya pertanyaan yang diajukan ke saya seputar itu.
Dokter juga menyarankan agar saya menampung semua air seni saya dalam satu hari. Waduh, padahal saya harus kerja di Surabaya sementara lab ini lokasinya ada di Malang. Jadilah, dalam sehari itu saya membawa jerigen ukuran sedang untuk menampung semua air kencing saya dalam satu hari, di antara dua kota, Malang – Surabaya. Malam hari saya kembali ke Malang, dan esok pagi menyerahkan satu jerigen penuh air kencing. Entah untuk apa ya air kencing sebanyak itu?
Hasil lab yang kemudian saya terima saya serahkan kembali ke dokter Ngesti dan ia manggut-manggut membenarkan diagnosanya. Kembali surat rujukan ke dokter spesialis lain ia buat untuk saya. Dokter yang menyebut ada myoma uteri di rahim saya dan menyarankan untuk mengangkat rahim saya yang belum dihuni satu jabang bayi pun.
Itulah mengapa saya dulu takut jika mendengar kejujuran ini. Tapi benarkah itu alasan yang benar? Saya butuh dokter lain untuk menguatkan diagnosa tersebut. Atau tepatnya untuk menguatkan diri saya sendiri? Dokter lain ini justru menyarankan saya untuk hamil. Kok?
“Karena tumor itu belum diketahui secara pasti penyebabnya, ada yang menengarai sebagai penyebab hormonal. Nah… jika ada janin di dalam rahim, ukuran myoma akan ‘mengalah’ seiring pertumbuhan janin,” sarannya.
Oh ya? Pikir saya. Bagaimana ini kok saran keduanya malah membuat saya bingung. Ngingub ker! Rupanya para dokter ini menyadari kebingungan saya dan menyarankan saya untuk berkonsultasi dengan dokter senior di Surabaya dengan surat rujukan.
Dokter senior ini akhirnya memeriksa saya dan dengan tegas menyatakan jika myoma saya cukup besar dan bisa menjadi faktor penyulit kehamilan saya. Jadi?
“Ya harus diangkat segera karena ukuran myomanya sama dengan janin usia tiga bulan,” ujarnya.
“Maksudnya diangkat rahimnya atau myomanya?” kejar saya dengan hati dag dig dug.
“Oh tentu saja myomanya, bukan rahimnya dan Anda masih bisa hamil jika myoma ini sudah diangkat. Jika myoma belum diangkat dan Anda hamil, berapapun usia kandungan Anda, pasti akan terjadi abortus spontan, keguguran, ” terangnya, pasti.
Alhamdullillah… jadi gak perlu ngangkat rahim ya…
Saya dan dokter senior membuat janji untuk pemeriksaan ulang dan waktu operasi yang tepat. Bulan depan. Kami akhirnya sepakat menentukan tanggal operasi pada bulan depan.
Hari Kamis di bulan Januari 1998, saya ingat persis saat itu bulan Ramadhan, dan saya pulang ke Malang. Bangun pagi saya tidak merasakan yang aneh pada diri saya. Bahkan setelah mandi hingga siang hari selepas shalat Dzuhur saya merasa biasa saja. Hanya menyelang ashar, tiba-tiba perut saya mulai terasa aneh.
Saya mulai menggeliat tidak karuan, karena perut saya seperti dipelintir. Sumprit sakitnya bukan main. Ada apa ini? Apakah karena myoma saya berulah? Saya hanya bisa rebahan dengan menahan sakit yang luar biasa ini. Baru kali itu saya tahu ternyata bulir keringat bisa segede kacang tanah. Saya sampai basah kuyub seperti habis diguyur air berember-ember. Suami dan orangtua saya sampai bingung melihat kondisi saya.
Saya memang tidak menjerit, mengaduh, atau berteriak. Saya memang merasakan sakit luar biasa namun saya pantang untuk mengeluh. Namun, efeknya menjadi luar biasa. Lantaran rasa sakit itu mendorong saya kehilangan kesadaran. Anehnya jika itu yang terjadi, saya tidak merasakan sakit lagi. Rasanya tenang banget. Apakah seperti itu perjalanan menuju mati?
Sayang, saya tiba-tiba terbangun lagi dan merasakan sakit yang luar biasa. Ternyata suami saya membangunkan kesadaran saya dengan aroma yang kuat menerobos masuk ke rongga hidung saya. Saya masih ingat meminta dibuatkan air gula daripada menelan obat pereda sakit. Apalagi waktu itu saya masih puasa Ramadhan. Obat akan membuat lambung kosong saya terluka.
Namun semua yang masuk ke mulut saya akhirnya keluar lagi. Ya air, juga obat yang akhirnya saya telan. Ada yang berontak di dalam sana. Antara sadar dan tidak saya tahu ambulance datang dan membawa saya ke rumah sakit. Awalnya saya pikir itu RSUD dr Syaiful Anwar. Ternyata itu RS Lavalette.
“Gravit,” suster yang mencoba mencari denyut nadi saya berbisik lirih pada rekannya. Saya sempat menangkap bisikan tersebut meski dengan hidung disumpal plastik oksigen dan tangan dihunjam jarum infus. Gravit? Hamil?
“Gak mungkin saya gravit,” saya juga hanya bisa berbisik. Lirih.
Tapi suster tidak bereaksi dengan bisikan saya.
Malam itu juga saya harus dioperasi, kata dokter. Saya baru tahu ternyata saya juga membutuhkan transfusi darah dalam jumlah banyak. Jenis darah saya AB. Sementara persediaan darah AB di PMI Kota Malang sedang kosong. Informasi dari teman di Surabaya, darah AB di PMI Kota Surabaya juga nihil. Ah ya ini bulan puasa jadi persediaan darah semua jenis selalu tipis.
Akhirnya kakak lelaki saya, seorang adik lelaki saya, seorang keponakan lelaki saya juga berdarah AB menjadi menyambung nyawa saya. Dokter akhirnya melakukan operasi penyelamatan setelah jumlah darah yang dibutuhkan terkumpul. Malam itu juga setelah shalat tarawih tuntas dilaksanakan.
Ternyata, dokter-dokter itu tidak ngeh kalau saya sudah hamil empat minggu meski posisi si janin tersembunyi di tuba falopi kanan. Oh calon anakku sayang yang berpulang tanpa kami semua tersadar engkau tengah bersemayam di sana. Dan di tuba falopi itulah ia ‘pecah’ dan terjadi perdarahan. Operasi penyelamatan itu untuk membersihkan kekacauan yang terjadi di daerah tersebut plus membuang satu indung telur kanan saya.
Apa sebenarnya tumor rahim atau yang bernama keren myoma uteri ini? Dari searching saya menemukan bahwa myoma uteri adalah tumor jinak pada daerah rahim atau lebih tepatnya otot rahim dan jaringan ikat di sekitarnya. Beberapa kepustakaan disebutkan, myoma uteri juga sering disebut dengan Leiomioma, Fibromioma atau Fibroid, hal ini mungkin karena memang otot uterus atau rahimlah yang memegang peranan dalam terbentuknya tumor ini.
Penyebab pasti dari myoma sampai detik ini belum diketahui pasti, tetapi diduga ada peranan hormon estrogen yang berperanan di samping faktor keturunan. Penelitian beberapa ahli menemukan bahwa pada otot rahim yang berubah menjadi myoma ditemukan reseptor estrogen yang lebih banyak daripada otot rahim normal.
Lalu bagaimana gejala dan tanda klinis yang muncul pada pasien dengan myoma? Keluhan yang dirasakan dan temuan klinis, sangat terggantung dari lokasi myoma, besarnya serta perubahan yang terjadi pada organ sekitarnya. Keluhan itu antara lain: perdarahan abnormal, rasa nyeri yang kelewatan, kalau myomanya menekan kandung kencing yang letaknya di bawah rahim maka akan terjadi gangguan kencing. Bila pasien myoma hamil, bisa terjadi keguguran spontan. Gejala lain yang cukup menakutkan yaitu infertilitas alias mandul.
Pada myoma kecil dan tidak menimbulkan keluhan, tidak diberikan terapi, hanya perlu diamati setiap tiga hingga enam bulan untuk menilai pembesarannya. Pembedahan dan pengangkatan myoma dilakukan bila besarnya myoma melebihi besar rahim seperti pada kehamilan 12 hingga 14 minggu. Sayangnya, pada beberapa pasien atau sekitar 15% hingga 40% terjadi kekambuhan setelah dilakukan miomektomi atau pengangkatan myoma dan dua pertiganya memerlukan pembedahan lagi.
Jadi, itulah yang terjadi pada saya dan operasi Caesar pertama saya. Operasi yang membuat saya merayakan Idul Fitri di tahun 1998 itu dengan terbaring di rumah sakit. Kelak, saya akan menjalani operasi Caesar kedua untuk membuang myoma uteri, bukan karena kehadiran anak yang saya harapkan hingga detik ini hadir dalam kehidupan saya. Sudah barang tentu saya akan membagi kisahnya dengan Anda semua.
Ya Allah… saya menerima semua ujian dan cobaanMU ini dengan ikhlas, karena saya yakin ENGKAU tidak akan pernah meninggalkanku barang sedetikpun… ***
