Berkarib dengan dokter sejak dini (foto by Habiburrohman)
SEJAK kecil saya terbiasa dengan dokter. Maksud saya begini… Ketika saya sakit flu yang membuat badan nggak karuan, panas dingin, meriang nggak ilang-ilang, dan membuat nafsu makan tak kunjung datang, orangtua saya biasanya segera membawa saya ke dokter terdekat. Anehnya, begitu keluar dari ruang praktik dokter, saya sudah bisa tersenyum lebar, bahkan bisa menyantap apapun yang bisa ditemukan di luar ruang praktik dokter.
Dokter yang biasa jadi langganan kami sekeluarga sejak saya kecil adalah dokter khusus yang merawat keluarga Polri. Maklum, bapak saya adalah anggota Polri dari Resort 1021 Kota Malang. Nah, tempat praktik dokter ini berada tidak jauh dari kantor Polres 1021. Persis berhadap-hadapan dengan RSUD Syaiful Anwar Malang.
Sayang, kini bangunan tempat dokter ini sudah tidak ada. Demikian juga dengan Polres 1021 Kota Malang yang kini beralih fungsi menjadi sebuah hotel. Padahal, ingatan yang masih membekas ketika berobat di sini adalah bangku penumpu kaki tempat pasien kecil seperti saya harus naik ke atas dipan.
Selain berobat di sini, bapak dan ibu saya suka membawa saya, kakak dan adik-adik saya ke dokter Melania Soedarmi yang praktiknya tak jauh dari rumah kami. Dokter perempuan yang cantik, ramah, dan baik hati itu selalu menyuntik saya ketika sakit. Dampaknya selalu sama, saya langsung sembuh dan bisa berjalan pulang dengan riang begitu selesai disuntik.
Hahaha… padahal kelak ketika saya sudah cukup besar, saya baru sadar jika dokter yang cantik ini adalah dokter spesialis THT (Telinga Hidung Tenggorokan). Pokoknya waktu itu saya benar-benar percaya jika semua dokter ya penyembuh segala macam penyakit dengan suntikan dan obatnya.
Alhamdullillah seingat saya sejak kecil saya memang jarang sakit. Paling ya hanya flu atau diare. Itu saja. Atau ketika SMA saya mulai edan dengan seni peran. Dalam sesi latihan vocal, entah karena terlalu semangat atau stamina lagi drop, saya terkena radang tenggorokan. Dokter menyarankan saya untuk prei tidak ngomong, menghindari makanan pedas, dan hanya menyantap bubur. Entah kenapa semenjak itu hingga setua ini saya paling sregep terkena radang tenggorokan. Setidaknya satu kali dalam satu tahun.
Saya baru merasa agak sakit beneran ketika kuliah dan mendadak semua tulang di kedua kaki saya benar-benar kaku dan tak bisa digerakkan. Dipakai berdiri nyeri, dibuat duduk ngilu, aduuuh… akhirnya cuma bisa berbaring melulu.
Untung mbah Ireng (ini nama mbah putri, orangtua kandung ibu saya.. nantilah saya akan cerita mengapa beliau dipanggil Mbah Ireng yang akhirnya menjadi trade mark beliau hingga akhir hayatnya) jago memijat. Pijatannya yang sangat membantu melemaskan kedua kaki saya.
Meski kemudian saya baru tahu jika rasa ngilu sebaiknya tidak diringankan dengan cara dipijat. Kadang rasa sakit ini cukup terbantu dengan direndam di dalam ember yang sudah diisi dengan air hangat dan ditaburi garam dapur. Toh semua itu harus diyakinkan oleh seorang dokter.
Dokter kali ini tempatnya praktiknya juga tidak jauh dari rumah. Hanya karena saya tidak mampu berjalan, bapak yang terlihat sangat cemas jika saya lumpuh, menyewa becak untuk membawa saya berobat ke dokter Indra, seorang dokter umum.
Dokter menyatakan jika saya terlampau lelah luar biasa sehingga membuat semua tulang penunjang kedua kaki saya ikut-ikutan ngilu.
“Apakah ini rematik dok?” tanya saya.
“Oh ini lebih parah dari rematik,” ujarnya.
Aduh, masak semuda ini saya sudah kena rematik?
Dokter akhirnya memberi saya sejumlah obat-obatan. Entah karena obat tersebut, atau karena saya mulai mengurangi aktivitas saya ketika kuliah, yang naik gununglah, yang pers kampuslah, yang teaternya- akhirnya semua ngilu di kedua kaki saya mulai hilang. Meski membutuhkan waktu agak lama.
Sakit kedua yang menurut saya agak parah ya setelah saya menikah. Dokter Ngesti Lestari –saya suka karena namanya mirip dengan nama wayang– praktiknya masih dekat dengan rumah masa kecil saya di Malang. Dokter Ngesti inilah yang meyakinkan saya kalau ada tumor di rahim saya. Namun tetap harus dipastikan lewat serangkaian tes di laboratorium.
Nah, hasil lab memang menunjukkan jika ada tumor di dinding luar rahim saya. Tepatnya, posisinya berada di dinding luar rahim sebelah kiri bawah. Dan bahasa keren tumor tidak ganas ini adalah myoma uteri. Waduh!
Saya dan suami mendatangi dokter spesialis kandungan di Kota Malang. Dokter yang menyarankan saya hamil saja. Alasannya janin akan mengalah pertumbuhan myoma. Dokter spesialis kandungan lain di Malang yang saya harap memberi second opinion menyarankan lain. “Rahimnya harus diangkat,” sarannya. Aduh!
Kok beda sih? Akhirnya dokter senior di Surabaya menjadi pilihan saya untuk meyakinkan diri. Beliau memberi jawaban penengah. “Memang harus diangkat tumornya karena diameternya yang besar akan menjadi faktor penyulit kehamilan. Besarnya seperti janin usia 12 minggu. Namun, kalau mau hamil silakan, namun pasti abortus, berapapun umur janinnya,” terang dokter yang akan mengoperasi saya dalam beberapa minggu ke depan.
Sayang sebelum rencana operasi berlangsung, saya keburu blooding. Abortus. Ternyata ketika itu saya sudah hamil empat minggu. Janin yang ngendon di tuba flopi itu pecah di sana. Sumpah, sakitnya minta ampun! Apakah seperti itu rasanya jika mau melahirkan? Entahlah…
Setengah sadar saya ternyata sudah dilarikan ke RS Lavalatte yang jaraknya lumayan dekat dari rumah orangtua saya di Malang. Tidak sampai lima menit perjalanan. Dokter Samudra yang akhirnya menyelamatkan nyawa saya lewat operasi Caesar pertama.
Operasi itu hanya membersihkan janin sekaligus membuang satu indung telur saya yang di sisi kanan. Namun, operasi tersebut menurutnya tidak mencukupi kalau harus juga membuang myoma uteri. Waduh, berarti kelak saya harus operasi Caesar lagi untuk membuang myoma uteri ini. Ya sutralah…
Alhamdullillah… ya Allah engkau masih memberiku kesempatan kedua.
Kesempatan kedua itu baru saya lakukan tiga tahun kemudian. Saya mendatangi lagi ruang praktik dr Samudra di RS Lavalette Malang dan menyatakan bahwa saya sekarang siap dioperasi kembali untuk pengangkatan myoma saya.
“Kok baru sekarang datang?” tanyanya, jauh dari nada menyindir.
“Saya baru siap sekarang dok,” jawab saya.
Saat itu juga saya dan dr Samudra menentukan waktu operasi kedua. Minggu depan.
Saya tidak pernah bercerita ke dr Samudra bahwa dalam masa tiga tahun itu saya mencoba pengobatan alternatif selain menggunakan obat-obatan tradisional. Bahkan, saya sempat juga melakukan operasi alternatif pada seorang pintar. Khusus yang satu ini, nantilah akan saya tuliskan kisahnya.
Nah, untuk persiapan operasi Caesar kedua itu saya mengajukan surat cuti ke kantor saya di Surabaya dan saya pulang ke Malang dengan semangat lahir dan batin siap tempur. Siang hari saya masuk rumah sakit untuk serangkaian tes, malam hari puasa, menjelang masuk subuh saya dibangunkan untuk dipompa perut saya. Dan tiga jam kemudian saya sudah didorong ke kamar operasi.
Menjelang siang, saya sudah dikembalikan ke kamar saya. Ternyata benar, operasi Caesar yang kedua baru terasa sakit di bekas jahitan luka, dibanding operasi Caesar pertama. Luka jahitan kali ini lebih panjang –nyaris membelah pusar saya– dari opreasi Caesar pertama dulu.
Alhamdullillah kini itu semua sudah lewat, dan insya allah saya tidak berurusan dengan dokter untuk urusan sakit berkategori berat. Karena usia, kini saya sering berurusan dengan dokter gigi, dokter mata, dokter THT, atau sesekali dengan dokter umum ketika saya ambruk karena flu berat.
Itulah dokter-dokter yang saya telah terbiasa dengannya… Ada NB-nya lho: masa tulisan yang seperti ini bisa kena imbas UU ITE yang telah meminta korban seorang Prita Mulyasari. Nggak lah yaw…. ***

Tapi aku takut di suntik…..
yaaa…
aku kan memang gak bisa nyuntik… kan bukan dokter…