
Putra yang saya impikan itu… (foto by SXC)
BERANI taruhan ketika masih sendiri, kita semua pernah menaruh impian ideal. Apakah itu kekasih ideal, pekerjaan, rumah, hingga rumah tangga yang sempurna. Pun demikian saya. Saya menginginkan kekasih ketika belum satupun pria yang melirik dan menyatakan suka kepada saya.
Dan ketika akhirnya saya mendapatkan kekasih yang menurut saya dia menyayangi saya dan demikian pula saya kepadanya, harapan saya kian melambung saja. Saya berharap kelak saya bisa menikah dengannya. Dan ketika harapan tersebut terkabul, saya memimpikan memiliki lima orang anak lelaki. Rasanya hebat banget. Saya, ibu yang akan selalu dilindungi oleh Pandawa lima.
Namun ketika semua mimpi saya belum sepenuhnya terwujud, seorang paranormal asal Surabaya –persisnya Suhu Heri Suwandhi– (kini almarhum) sempat meramal peruntungan saya. Jujur saya sebetulnya nggak pernah percaya pada ramalam. Meski saya tidak menafikan bahwa ada beberapa orang yang mendapat kelebihan dari Allah swt.
Saya pun tak pernah minta diramal oleh siapapun. Pertemuan saya dengan Suhu Heri Suwandhi waktu itu karena pekerjaan saya sebagai reporter memungkinkan saya bersentuhan dengan profesi beliau.
Tepatnya tahun 1994. Di sebuah plasa di pusat Kota Surabaya digelar hajatan paranormal se Jawa Timur. Nah.. di sanalah tiba-tiba Suhu Heri Suwandhi mendekati saya dan mengatakan bahwa ada luka kecil di perut saya yang kelak membuat saya susah mendapatkan keturunan.
“Kalau pun bisa mendapatkan keturunan, sampeyan akan memiliki tiga orang anak,” lanjutnya sambil memainkan lisong rokoknya.
Entah kenapa saya menjawab, “Ah, tiga kebanyakan, satu anak saja sudah alhamdullillah.” Padahal, ketika remaja saya pingin punya lima anak lelaki persis kisah Dewi Kunti dan lima anaknya, Pandawa lima.
Pertemuan hari itu berakhir sudah hingga bertahun-tahun kemudian. September tahun 1997 saya menikah dengan lelaki yang saya suka. Bulan Desember di tahun yang sama dokter melakukan Caesar karena ternyata saya hamil di luar rahim dengan usia kehamilan empat minggu.
Janin yang bakal anak pertama saya itu tidak bisa meluncur sempurna ke dalam rahim saya karena besarnya ukuran daging yang menempel di dinding luar rahim di sebelah kiri bawah. Oh ya, sebelumnya dokter memvonis jika saya menderita tumor rahim atau myoma uteri. Nah janin itu tertahan di tuba falopi. Dan di sanalah ia pecah sehingga saya mengalami pendarahan hebat.
Operasi penyelamatan dilakukan untuk menyelamatkan nyawa saya dengan membuang satu indung telur saya yang sebelah kanan. Namun operasi itu tidak sekaligus membuang tumor rahim yang ukurannya seperti janin usia tiga bulan.
Waduh… berarti kelak saya harus melakukan operasi Caesar lagi untuk membuang myoma ini. Dan memang tiga tahun kemudian setelah operasi Caesar pertama, saya kembali ke dokter yang sama dr Samudra di RS Lavalette Malang untuk menjalani operasi Caesar yang kedua.
Bekas operasi pertama dulu dibuka lagi untuk membuang daging di rahim saya yang setelah tiga tahun diameternya sudah bertambah menjadi 11 centimeter. Duh… dua kali operasi Caesar bukan untuk kelahiran anak-anak yang saya impikan.
Saya jadi teringat ramalan Suhu Heri Suwandhi. Ya luka memanjang di perut saya bekas dua kali operasi Caesar itu menjadikan saya hingga detik ini (2009) belum juga mendapatkan anak-anak manis yang saya impikan yang terlahir dari rahim saya.
Namun saya tidak pernah ‘menggugat’ Allah swt mengapa dia menguji saya dengan cara seperti ini. Meski tak saya mungkiri, kadang saya sedih jika mengingat itu semua. Ah pasti ada hikmah di balik semua cobaan ini. Jika sekarang saya belum tahu mengapa, mungkin kelak saya akan mendapatkan jawabannya.
Oh ya… mengapa Suhu Heri Suwandhi mengatakan jika saya malah akan mendapat tiga anak? Saya memiliki kisah (atau jawaban) dari ramalan itu? Tunggu di tulisan saya berikutnya ya… ***